{"id":772,"date":"2020-03-02T04:21:20","date_gmt":"2020-03-02T04:21:20","guid":{"rendered":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/?p=772"},"modified":"2020-04-01T11:16:20","modified_gmt":"2020-04-01T11:16:20","slug":"randusari-dusun-santri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/randusari-dusun-santri\/","title":{"rendered":"Randusari Dusun Santri"},"content":{"rendered":"<p><strong>Randusari Dusun Santri<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Randusari merupakan salah satu dusun yang terletak di kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Secara administratif dusun Randusari terletak di RW 2 yang terbagi menjadi 6 RT. Randusari merupakan salah satu wilayah di Nongkosawit yang terkenal akan wisata alamnya. Seperti air terjun, hutan, spesies kera ekor panjang hingga sendang.<\/p>\n<p>Namun selain dusun randusari terkenal dengan destinasi wisata alamnya, dusun ini juga memiliki destinasi wisata religi. Salah satunya adalah Masjid Nurul Huda. Ketika seseorang berkunjung atau melaksanakan ibadah di masjid ini mungkin akan merasakan hal yang biasa-biasa saja. Hal ini karena pada dasarnya bangunan Masjid Nurul Huda sama seperti masjid pada umumnya. Namun hal yang membedakan dan menjadi destinasi wisata religi masjid tersebut adalah sejarah yang tersimpan di balik bangunan masjid tersebut.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurut penuturan Kang Rofik yang merupakan salah satu keturunan dari tokoh yang dipercaya sebagai <em>mbahu rekso <\/em>kelurahan Nongkosawit. Masjid Nurul Huda dibangun sekitar tahun 1892. Sehingga masjid ini dipercaya merupakan masjid tertua yang ada di daerah kecamatan Gunungpati. Masjid ini dibangun oleh KH. Muhammad Hadi Giri Kusumo yang berasal dari daerah Giri Kusumo. Hal ini dibuktikan dengan peletakan batu pertama masjid tersebut dilakukan oleh KH. Muhammad Hadi Giri Kusumo.<\/p>\n<p>Masjid ini dahulunya merupakan masjid yang memiliki konsep bangunan seperti masjid-masjid pada umumnya ketika masanya. Namun karena masyarakat Dusun Randusari melakukan pemugaran dan renovasi terhadap bangunan Masjid Nurul Huda hampir di seluruh bagian masjid akhirnya tampak seperti bangunan masjid pada umumnya. Saka aslinya juga sudah tidak ada.<\/p>\n<p>Namun demikian ada beberapa peninggalan dari awal pembangunan Masjid Nurul Huda yang masih dapat dilihat hingga sekarang yaitu Bedug Sidogori dan <em>Mustaqqa <\/em>masjid. Bedug Sidogori merupakan salah satu peninggalan Syekh Hasan Munadi. Syekh Hasan Munadi memiliki nama asli Bambang Kertonadi dan dipercaya merupakan salah satu wali yang pernah singgah dan menyebarkan agama islam di Kelurahan Nongkosawit dan sekitarnya. Syekh Hasan Munadi dipercaya sebagai seorang wali yang konon berasal dari Banyuwangi dan saat ini dimakamkan di Nyatnyono, Ungaran.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Bedug peninggalan Mbah Hasan Munadi ini dianggap sakti karena bahan dasar pembuatan bedug ini berasal dari kayu tumbuhan sidogori. Sidaguri atau sidogori merupakan salah satu jenis tanaman obat dari famili Malvaceae. Tanaman ini adalah tanaman semak yang tumbuh liar dan banyak ditemui di pinggir selokan, sungai dan di bawah pohon besar. Pada umumnya besar tanaman sidogori hanyalah sebesar rumbut dan tanaman-tanaman belukar lainnya. Namun pada bedug tersebut besar tanaman sidogori dapat mencapai sebesar bedug. Hal inilah yang lantas menyebabkan masyrakat mengganggap bedug tersebut merupakan salah satu pusaka peninggalan Mbah Hasan Munadi.<\/p>\n<p>Bedug ini dipercaya menjadi cikal bakal pembangunan Masjid Nurul Huda dan cikal bakal pemberian nama Randusari. Berawal ketika Mbah Hasan Munadi akan membangun sebuah masjid di RW 1 (Desa Nongkosawit) . Masjid tersebut dibangun bersamaan dengan dibuatnya bedug tersebut. Ketika bedug selesai dibuat selanjutnya ditabuh (dibuyikan) oleh warga. Namun warga mengalami keanehan, ketika bedug ditabuh ia tidak berbunyi. Namun ketika warga memindahkan bedug tersebut ke wilayah yang sekarang menjadi Dusun Randusari dan digantungkan di sebuah Pohon Randu. Setelah digantungkan di Pohon Randu ternyata bedug tersebut berbunyi ketika ditabuh\/dibunyikan. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa nama \u201cRandu\u201d diambil sebagai salah satu nama dusun yang terletak di RW 2 kelurahan Nongkosawit.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sampai saat ini bedug sidogori masih aktif dan dapat dilihat di bagian depan masjid. Bahannya juga masih asli. Hanya saja warga selalu mengganti bagian kulit bedug tersebut yang tersbuat dari kulit sapi.\u00a0 Sedangkan mustaqa atau kubah masjid merupakan salah satu peninggalan dari pembangunan awal Masjid Nurul Huda. Saat ini mustaqa disimpan oleh warga di lantas dua \u00a0masjid tersebut. Menurut penuturan warga, dahulu ketika mustaqa masjid ini masih digunakan saat \u00a0malam hari dapat memancarkan cahaya. Namun karena renovasi dan pemugaran masjid akhirnya mustaqa ini diganti dengan kubah masjid yang saat ini menjadi atap masjid.<\/p>\n<p>Setelah masjid dibangun \u00a0berkembang pesat agama islam. Hal ini ditandai dengan dibangunnya pondok pesantren oleh KH. Mursyid atau kerap disapa Mbah Mursyid. Menurut penuturan warga Mbah Mursyid adalah seorang haji muda dan pertama di daerah Nongkosawit. Pesantren ini dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Badar Hadi Siswoyo. Sampai saat ini masih banyak keturunan keduanya di sekitar masjid.<\/p>\n<p>Setelah dibangunnya pondok pesantren daerah nongkosawit menjadi pusat pendidikan dan santri. Salah satu yang dikenal adalah Pendidikan Guru Agama (PGA) dan <em>naib <\/em>atau penghulu. Santri-santri pada masa itu bukan hanya berasal dari daerah Nongkosawi saja tapi juga banyak yang berasal dari daerah Batang dan sekitarnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pada masanya pondok pesantren tersebut tidak menyediakan tempat tinggal bagi para santri, sehingga santri bertempat tinggal di rumah-rumah warga sekitar. Selain bertempat tinggal para santri juga bekeja dan membantu para pemilik rumah sepeti bertani, berkebun hingga beternak. Istilah ini dikenal oleh masyarakat sekitar dengan nama <em>Nyantre. <\/em><\/p>\n<p>Namun demikian, pondok pesantren ini hanya bertahan selama 80 tahun saja karena tidak ada lagi santri yang mondok di pesantren tersebut.<\/p>\n<p>Bangunan yang digunakan sebagai pondok pesantren pada masa itu berbentuk seperti rumah panggung. Dan letaknya berada persis di samping kanan dari masjid. Saat ini bangunan tersebut sudah tidak ada. Tempat yang dahulunya merupakan sebuah pondok pesantren sekarang sudah dibangun sebuah bangunan yang digunakan sebagai kegiatan-kegiatan keagamaan seperti TPQ, mengaji, barjanji hingga kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.<\/p>\n<p>Namun sampai saat ini ajaran agama islam tetap berkembang di Dusun Randusari khususnya dan Nongkosawit pada umumnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya masjid dan mushola yang sudah dibangun. Menurut data monografi kelurahan nongkosawit per januari 2018 Kelurahan Nongkosawit terdapat 6 buah masjid dan 22 mushola.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Randusari \u2014 The Village of Santri<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Randusari is one of the villages located in Nongkosawit, Gunungpati, Semarang. Randusari is administratively located in RW 2 which is divided into 6 RT. Randusari is one of the areas in Nongkosawit which is famous for its natural tourism, such as waterfalls, forests, species of long-tailed apes, and also the springs.<\/p>\n<p>In addition to Randusari\u2019s fame for its natural tourism destination, this village also has become a religious tourism destination. One of them is Masjid Nurul Huda. When someone visits or performs worship in the Mosque, it will probably feel mediocre. This is because Nurul Huda Mosque is basically the same as the Mosque in general. But what distinguishes and becomes religious tourism destinations is the history that is kept behind the building of the Mosque.<\/p>\n<p>According to Kang Rofik\u2019s narrative, one of the descendants of the public figure who is believed to be a <em>mbahu rekso<\/em> Village of Nongkosawit. Nurul Huda Mosque was built around the year of 1892. This Mosque is believed to be the oldest Mosque in Gunungpati sub-district. The Mosque was built by K.H. Muhammad Hadi Giri Kusumo who originated from Giri Kusumo region. This is evidenced by the placing of the Mosque\u2019s first stone by K.H. Muhammad Hadi Giri Kusumo.<\/p>\n<p>This Mosque was once a Mosque that has the concept of buildings such as Mosques in general during the time. But because the residents of Randusari initiative to restore and renovate the Nurul Huda Mosque in almost all parts of the Mosque, finally it looks like a Mosque in general. The original Saka has already gone.<\/p>\n<p>However, there are some relics from the early development of Nurul Huda Mosque that can be seen until now namely <em>Beduk Sidogori<\/em> and <em>Mustaqqa Masjid<\/em>. Beduk Sidogori is one of Sheikh Hasan Munadi\u2019s relics. Sheikh Hasan Munadi has the real name Bambang Kertonadi and is believed to be one of the <em>wali<\/em> who have stayed and spread the religion of Islam in Nongkosawit and surrounding villages. Sheikh Hasan Munadi is believed to be a <em>wali<\/em> who is said to have originated in Banyuwangi and is currently buried in Nyatnyono, Ungaran.<\/p>\n<p>Mbah Hasan Munadi\u2019s <em>beduk<\/em> are considered sacred because the material to make it is derived from the wood of <em>Sidogori<\/em>. <em>Sidaguri<\/em> or <em>Sidogori<\/em> is a type of medicinal plant of the family Malvaceae. This plant is a bush plant that grows wild and is widely encountered on the edges of sewers, rivers, and under large trees. Generally, large crops are only the same as grass and another shrub. However, the size of the tress can make the <em>beduk<\/em>. This is what causes the society to consider the <em>beduk<\/em> is one of the relics of Mbah Hasan Munadi.<\/p>\n<p>This <em>beduk<\/em> was believed to be the forerunner of Nurul Huda Mosque and the forerunner of the name Randusari, started when Mbah Hasan Munadi build a Mosque in RW 1 (Nongkosawit Village). The Mosque was built together with the creation of the <em>beduk<\/em>. When the <em>beduk<\/em> finished the villagers try to sound the <em>beduk<\/em> but it has no sound. It was an odd experience for the villagers. However, when the villagers moved the <em>beduk<\/em> to the region which is now known as Randusari Village and was hung in a kapok tree, it turns out that the <em>beduk<\/em> give its sound. This is the reason why the name \u201cRandu\u201d (kapok tree) is taken as one of the village names located in the RW 2 of Nongkosawit Village.<\/p>\n<p>Until now, the Sidogori <em>beduk<\/em> is still used and can be seen at the front of the Mosque. The material is also still genuine. The residents just change the membrane that are made from cow\u2019s skin. Meanwhile, Mustaqa or dome of the Mosque is one of the relics of the early development of Masjid Nurul Huda. Nowadays, <em>Mustaqa<\/em> is kept by the residents in the two Mosques. According to residents\u2019 narrative, when <em>Mustaqa<\/em> at the Mosque is still used, it can emit light in the night. But due to renovation and restoration of the Mosque, the <em>Mustaqa<\/em> finally replaced with the dome of the Mosque which is now the roof of the Mosque.<\/p>\n<p>After the Mosque built, Islamic religion developed rapidly. It is characterized by the building of boarding schools by K.H. Mursyid or often called Mbah Mursyid. According to the people, Mbah Mursyid was young and the first hajj in the Nongkosawit. The <em>Pesantren<\/em> was continued by his son, Badar Hadi Siswoyo. Until now, there are still many descendants around the Mosque.<\/p>\n<p>After the construction of the area of Islamic boarding schools, Nongkosawit become Islamic educational and students center. One of the best known is the PGA (Pendidikan Guru Agama = Religious Teacher Education) and <em>naib <\/em>or headman. <em>Santri<\/em> at that time not only come from Nongkosawit area only but also come from the area of Batang and surrounding areas.<\/p>\n<p>At that time, the boarding school does not provide shelter for students, so students reside in the homes of the surrounding residents. In addition to the residence of the students also work and help the home owners who are farming, gardening, or take care the livestock. The term is known by the surrounding community as <em>Nyantre.<\/em><\/p>\n<p>Nevertheless, this boarding school only lasts for 80 years only because there are no more students who have come to the <em>Pesantren<\/em>.<\/p>\n<p>The building that was used as a boarding house at that time was shaped like a home stage. It is located at the right next to the Mosque. Currently the building is no longer exists. A place that was once a boarding school is now built a building that is used as religious activities such as Koran Reading Education, assembly point, or other religious activities.<\/p>\n<p>Until now the teachings of Islam still developed in Randusari particularly and Nongkosawit generally. This can be proved by many Mosques and Mushola that have been built. According to the monographic data of the Nongkosawit Village in January 2018, Nongkosawit Village has 6 Mosques and 22 Mushola.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Randusari Dusun Santri &nbsp; Randusari merupakan salah satu dusun yang terletak di kelurahan Nongkosawit, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Secara administratif dusun Randusari terletak di RW 2 yang terbagi menjadi 6 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":775,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[51],"tags":[],"class_list":["post-772","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-narasi"],"brizy_media":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/772","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=772"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/772\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":776,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/772\/revisions\/776"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/media\/775"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=772"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=772"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=772"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}