{"id":801,"date":"2020-03-02T05:17:52","date_gmt":"2020-03-02T05:17:52","guid":{"rendered":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/?p=801"},"modified":"2020-04-01T11:15:52","modified_gmt":"2020-04-01T11:15:52","slug":"801-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/801-2\/","title":{"rendered":"Mengingat Masa Kejayaan Sendang"},"content":{"rendered":"<p><strong>Mengingat Masa Kejayaan <\/strong><strong>Sendang<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Nongkosawit memang sejak dulu terkenal dengan daerah yang memiliki banyak sumber air. Banyak cekungan air, belik, dan sendang yang tersebar di kawasan ini. Dengan banyak sumber air tersebut memudahkan warga dalam memenuhi kebuthan air setiap harinya. tidak heran jika warga sangat menghargai keberadaan sendang dan sumber air tersebut.<\/p>\n<p>Di antara banyaknya sumber air di Kelurahan tersebut, terdapat beberapa sendang yang memiliki nama dan cerita di masyarakat dan masih berfungsi hingga sekarang. Sendang di RW 1 Kampung Nongkosawit di antanranya Sendang Cengklik, Sendang Cangkring, Sendang Jati, dan Sendang Kidul. Di RW 2 Randusari, terdapat Sendang Bendo, Sendang Gondang, Sendang Putri, Sendang Cangkrik, dan Sendang Serut. Selain itu ada juga dua sendang \u00a0di RW 3 Jedung, yakni Sendang Wedok dan Sendang Deres. Di antara sendang-sendang tersebut masih ada beberapa yang tetap dimanfaatkan oleh warga dan ada beberapa yang keberadaanya telah hilang bahkan warga setempat sudah tidak tau pasti di mana lokasinya.<\/p>\n<p>Sendang Putri misalnya, sendang yang dikisahkan berada di pinggir Kali Irigasi ini sekarang sudah tidak ada yang tahu pasti lokasi tepatnya di mana. Cerita setempat mengatakan di Sendang Putri ini dulunya sering dipakai mandi oleh seorang puteri dari Batang yang kabur dari rumahnya karena tidak mau dipaksa menikah oleh orang tuanya. Sendang ini juga memiliki guna sosial dan ritual misalnya pada Sendang Cangkring dan Sendang Jati yang sering dijadikan tempat untuk memandikan ibu hamil pada prosesi tingkeban. Meskipun kondisinya saat ini tidak terawat, dikelilingi semak belukar dan sudah jarang warga yang mengunjunginya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Lain hal dengan Sendang Gondang dan Bendho yang airnya masih dimanfaatkan oleh warga untuk minum ternak. Menurut cerita para sesepuh kampung, sendang memiliki air yang jernih dengan beragam ikan hidup di dalamnya. Masyarakat pun memanfaatkan air sendang untuk kebutuhan sehari-hari, baik untuk memasak, minum, mandi, dan mencuci.<\/p>\n<p>Sendang bahkan seperti menjadi tempat teramai kedua setelah pasar. Bagaimana tidak, setiap pagi ibu-ibu berkumpul untuk mencuci, ssore hari pun anak-anak bermain di sekitaran sendang dan mandi bersama teman-temannya. Bahkan dahulu, setiap tahun terdapat kegiatan nyadran sendang, yakni kegiatan bersih-bersih sendang, air sendang dikuras dan dibersihkan kemudian warga berdoa bersama di pinggir sendang sebagai upaya untuk menjaga kebersihan sendang dan rasa syukur atas berkah air yang melimpah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sesuatu yang \u00a0khas dari sebuah sendang adalah pohon besar yang menaunginya. Membuat tempat di sekitarnya terkesan teduh. Karenanya tak jarang beberapa nama sendang di Kelurahan Nongkosawit seringkali dinamai dengan nama pohon yang menaunginya. Akan tetapi kini sendang mulai terlupakan. Sendang menjadi sebuah tempat yang sangat jarang dijamah oleh warga. Air sendang semakin berkurang, berwarna keruh, dan puncaknya adalah kemarau tahun ini yang mana beberapa sendang mengalami kekeringan. Sendang sudah lama ditinggalkan karena masyarakat telah menemukan alternatif baru untuk mencukupi kebutuhan airnya, baik dengan sumur pribadi maupun dengan air artesis.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengingat Masa Kejayaan Sendang &nbsp; Nongkosawit memang sejak dulu terkenal dengan daerah yang memiliki banyak sumber air. Banyak cekungan air, belik, dan sendang yang tersebar di kawasan ini. Dengan banyak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":803,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[51],"tags":[],"class_list":["post-801","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-narasi"],"brizy_media":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/801","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=801"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/801\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":804,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/801\/revisions\/804"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/media\/803"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=801"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=801"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=801"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}