{"id":822,"date":"2020-03-03T04:50:13","date_gmt":"2020-03-03T04:50:13","guid":{"rendered":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/?p=822"},"modified":"2020-04-01T12:12:47","modified_gmt":"2020-04-01T12:12:47","slug":"kampung-kepoh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/kampung-kepoh\/","title":{"rendered":"Kampung Kepoh"},"content":{"rendered":"<p><strong>Kampung <\/strong><strong>Kepoh<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Kampung Kepoh terletak di RW IV dan terkenal penghasil pertanian dan peternakan di Kelurahan Nongkosawit.\u00a0 Dipercaya di Kampung Kepoh ini dulunya terdapat banyak Pohon Kepoh dan mendapat nama dari tumbuhan tersebut. Meskipun mayoritas masyarakat juga tidak tau seperti apa bentuk dari pohon kepoh itu sendiri. Konon pohon tersebut sudah punah dan tidak ada lagi. Dulu Kampung Kepoh didiami oleh lima kepala keluarga namun seiring perkembangan zaman maka semakin hari semakin bertambah penduduknya. Di kampung ini terdapat bangunan joglo yang sering dijadikan tempat penginapan para turis dan orang-orang yang berkunjung ke desa Nongkosawit pada umumnya. Mayoritas pencaharian warga bertani dan beternak. Selain itu di kampung ini juga terdapat kampung kecil yang disebut masyarakat sebagai Kampung Kalakan. Dinamakan kalakan karena dahulu wilayahnya terdapat banyak sekali Bunga Kalakan. Tumbuhan perdu yang memiliki bunga mirip dengan kenanga namun memiliki harum yang lebih pekat. Tumbuhan ini masih dapat ditemukan di daerah ini meskipun tidak sebanyak dulu. Sekarang kawasan ini telah berubah menjadi perumahan warganya pun mayoritas pendatang. Namun penyebutan Kalakan tidak hilang dari masyarakat Kepoh dan Nongkosawit Serta sekitarnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kampung Kepoh \u00a0 Kampung Kepoh terletak di RW IV dan terkenal penghasil pertanian dan peternakan di Kelurahan Nongkosawit.\u00a0 Dipercaya di Kampung Kepoh ini dulunya terdapat banyak Pohon Kepoh dan mendapat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":586,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[51],"tags":[],"class_list":["post-822","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-narasi"],"brizy_media":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/822","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=822"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/822\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":823,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/822\/revisions\/823"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/media\/586"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=822"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=822"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pentaklabs.or.id\/nongkosawit\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=822"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}