Desa Wisata Nongkosawit
Berdasarkan data dari Dinas Pariwisata Kota Semarang, desa wisata adalah sebuah kawasan pedesaan yang memiliki beberapa karakteristik khusus untuk menjadi daerah tujuan wisata. Di kawasan ini, penduduknya masih memiliki tradisi dan budaya yang relatif masih asli. Selain itu, beberapa faktor pendukung seperti makanan khas, sistem pertanian dan sistem sosial turut mewarnai sebuah kawasan desa wisata. Di luar faktor-faktor tersebut, alam dan lingkungan yang masih asli dan terjaga merupakan salah satu faktor terpenting dari sebuah kawasan tujuan wisata. Selain berbagai keunikan, kawasan desa wisata juga harus memiliki berbagai fasilitas untuk menunjangnya sebagai kawasan tujuan wisata.
Berdasarkan SK Walikota Semarang Nomor 556/407, Kelurahan Nongkosawit ditetapkan sebagai Desa Wisata Kota Semarang yang berlaku mulai 21 Desember 2012 dan melakukan grand opening pada 9 september 2013. Desa ini dijadikan desa wisata sebagai penyokong Waduk Jatibarang. Desa wisata ini menawarkan wisata budaya, alam, dan kearifan lokal. Nongkosawit dijadikan desa wisata berbasis edukasi dan budaya. Sedikitnya ada 9 atraksi wisata yang ditawarkan di Nongkosawit ini. Diantaranya, Peternakan (Sapi perah, ayam dan kambing), Perkebunan buah dan sayur, Dolanan tradisional dan gamelan, wisata sendang dan sejarah, sentra tape dan jajan tradisional, sentra batik lukis, penangkaran burung langka, Kirab Kyai Bende, dan kerajinan bambu.
Desa wisata di bentuk dengan tujuan meningkatkan eksistensi dan mengangkat potensi sebuah wilayah dan juga membawa dampak positif terhadap perekonomian rakyat. Hal tersebut berlaku juga di kelurahan Nongkosawit. Meskipun dalam pelaksanaannya, desa wisata ini belum berjalan secara optimal. Di kelurahan Nongkosawit terbagi menjadi 5 kampung, dan wisata terpusat di RW 1 Kampung Nongkosawit dan RW 2 Kampung Randusari. Kedua kampung ini pun belum saling terintegrasi dalam proses dan agenda desa wisata. Meskipun kedua kampung tersebut di bawah naungan satu kelompok sadar wisata, akan tetapi prosesnya masih bersifat parsial dan berjalan sendiri-sendiri. Selain itu beberapa potensi wisata belum terorganisir dengan baik bahkan ada yang rusak. Seperti sendang yang tahun 2018 ini mengalami kekeringan dan air hanya tersisa sangat sedikit dan berwarna keruh. Selama ini, wisata yang sering dicari adalah kearifan lokal bertani dan juga pemandangan sungai kripik serta keberadaan monyet ekor panjang.
Namun dengan diangkatnya Nongkosawit menjadi desa wisata juga berpengaruh dengan agenda-agenda budaya di kelurahan tersebut. Setiap tahun kini terdapat event-event yang menjadi agenda rutin warga. Seperti kirab bendhe, dan kegiatan nyadran Kubur di Makam Sipule. Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan eksistensi Nongkosawit dan menarik para wisatawan. Meskipun secara teknis, pelaksanaan desa wisata ini masih sangat kurang baik dalam penataan atraksi wisata maupun partisipasi masyarakat serta pemahaman warga terhadap desa wisata itu sendiri.
Nongkosawit menjadi desa wisata bersamaan dengan dua kelurahan lainnya di Kecamatan Gunungpati yakni Kelurahan Wonolopo dan Kelurahan Kandri. Tiga kelurahan ini dijadikn desa wisata sebagai keberlanjutan dari pembangunan Waduk Jatibarang. Wonolopo dan Nongkosawit akan menjadi wilayah wisata pendukung bagi Kelurahan Kandri di mana Waduk Jatibarang dibangun.
Kelurahan Nongkosawit sendiri memiliki 5 kampung atau RW yang dikembangkan menjadi desa wisata dengan konsep utama agro wisata. Namun pada dasarnya tiap kampung di kelurahan ini memiliki keeunikan dan kekhasan masing-masing. Menurut Warsono selaku Ketua Kelompok Sadar Wisata Nongkosawit setiap kampung diharapkan berkembang sesuai keunikan yang dimilikinya. Di RW 1 Kampung Nongkosawit dikembangkan dengan agrowisata dan budaya seni, hal ini didukung dengan adanya pegiat budaya yang juga mengembangkan Wayang Ringut di daerah tersebt. Di RW 2 Kampung Randusari berkembang dengan agrowisata dan wisata alam, yang juga terdapat monyet ekor panjang yang menjadi obyek terkenalnya. Di RW 3 Kampung Jedung, terdapat pintu air Sungai Kripik dan juga perkebunan mrica, perkebunan durian yang dikelola oleh masyarakat setempat, meskipun Kampung Jedung masih menjadi salah satu kampung yang paling trtutup di antara kampung yang lain di Kelurahan Nongkosait dalam penerimaannya menjadi desa wisata. Di RW 4 Kampung Kepoh, terdapat sawah loh yang disebut dengan Tuk Jemblong. Sawah loh berarti sawah yang tidak pernah kering, baik di musim kemarau maupun musim penghujan. Selain itu di kampung ini terdapat rumah joglo yang digunakan sebagai tempat menginap para tamu yang berwisata baik di kelurahan Nongkosawit maupun Kandri dan Wonolopo. Rumah joglo terseut merupakan kepemilikan pribadi warga dan dikelola secara pribadi juga. Yang terakhir di RW 5 Kampung Getas menjadi satu-satunya kampung yang menjadi kampung tematik dengan sebutan Kampung Osin atau olahan singkong. Kampung ini memiliki banyak warga yang membuat aneka jajanan pasar dari bahan dasar singkong dan juga tape baik tape ketan maupun tape singkong. Berkaitan dengan desa wisata, kampung ini menjual proses pembuatan makanan-makanan olahan tersebut sebagai daya tarik wisatanya.
Tinggalkan Balasan