Rumah Kuno untuk Sang Guru

bombom Narasi Maret 3, 2020

Rumah Kuno untuk Sang Guru

 

Jika kita berkunjung ke Dusun Randusari lalu mampir ke Masjid Nurul Huda pasti kita akan melihat pemandangan rumah kuno milik Zahid Tamam, putra bungsu dari Kyai Hadi Siswoyo. Kyai Hadi Siswoyo adalah putra dari pendiri pondok pesantren Darul Ulum yakni Kyai Mursid, dan Kyai Hadi Siswoyo sendiri yang meneruskan kepemimpinan pondok pesantren. Rumah yang berdiri di atas lahan kurang lebih 100m2 ini dibangun sekitar 82 tahun lalu oleh swasembada warga masyarakat yang menganggap Kyai Hadi Siswoyo adalah gurunya. Selama pondok pesantren masih aktif, selain berguna untuk tempat tinggal rumah Kyai Hadi ini digunakan para muridnya untuk mengaji Kitab Kuning dan menerima tamu-tamu santri atau kyai dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur. Namun kurang lebih 20 tahun lalu semenjak Kyai Hadi meninggal dunia, pondok pesantren tersebut bubar dan tidak ada yang meneruskan. Rumah yang dahulu kala mempunyai bangunan kira-kira seluas 45m2 kemudian dibagi dua dengan dua anak lelaki Kyai Hadi dari 6 bersaudara. Rumah dibagi dua kepada Amin Sutrisno yang kemudian bangunan rumahnya diambil dan dibangun di Kalakan dan yang tetap berdiri di tanah semula di huni oleh Zahid Tamam.

 

Menurut penuturan Zahid Tamam rumah tersebut sudah dipugar sebanyak 3 kali, pemugaran pertama terjadi ketika pembagian rumah, pemugaran kedua bangunan yang semula terbuat dari kayu temboknya diganti dengan tembok semen dan kemudian pemugaran ketiga di bagian atapnya yang dahulu bambu diganti kayu jati agar awet. Saat ini bangunan yang masih asli peninggalan rumah Kyai Hadi ada pada gebyok pintu depan yang terbuat dari kayu sengon. Meski di bagian dalamnya sudah banyak mengalami renovasi, Zahid Tamam sendiri berusaha untuk tidak menghapus bentuk asli rumah tersebut, hanya materialnya saja yang diganti. Hal itu bertujuan untuk menghindari jika rumah tersebut nanti ambruk. Kemudian karena disamping rumahnya terdapat lahan kosong akibat bangunan rumah harus dibagi dua dengan kakaknya. Zahid Tamam membuat bangunan baru yang lebih kecil di samping rumahnya.

 

Tidak ada makna tersendiri menurut Zahid mengenai ornamen bangunan. Semua merupakan hasil swasembada para masyarakat dan juga muridnya yang membangun rumah tersebut. Jadi jika perihal makna ukiran atau ornamen rumah anak-anak dari Kyai Hadi tidak mengetahuinya. Rumah tersebut merupakan bentuk wujud cinta masyarakat dan muridnya terhadap guru mereka. Karena Kyai Hadi sendiri semasa hidupnya hanya mengaji dan tidak memiliki pekerjaan tetap.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *